Tampilkan postingan dengan label Dzikir dan Doä. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dzikir dan Doä. Tampilkan semua postingan

Do'a Bulan Rajab

No Comments

Delete (Ctrl+Alt+Del) Dosa

Delete (Ctrl+Alt+Del) Dosa

No Comments


Delete (Ctrl+Alt+Del) Dosa
Meskipun Sebanyak Buih di Lautan
.
.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
.
“Barang siapa yang bertasbih sebanyak 33x, bertahmid sebanyak 33x, dan bertakbir sebanyak 33x setelah melaksanakan shalat fardhu sehingga berjumlah 99, kemudian menggenapkannya untuk yang ke 100 dengan ucapan:
.
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
.
laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahu lahul mulku walalhul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai-in qodiir
.
maka kesalahannya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.”
.
[HR. Muslim]
.
.
Allahumma,,
Do'a agar tetap istiqamah...

Do'a agar tetap istiqamah...

No Comments



agar tetap istiqamah...

.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
.
YAA MUQALLIBAL QULUUB, TSABBIT QALBII 'ALAA DIINIKA
.
"Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu."
.
[HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Hakim]
.
__________

“Do'a ini merupakan do'a yang paling banyak dibaca Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.” (Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) 
---

Istiqamah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqamah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Inilah pengertian istiqamah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali. 
.
Firman Allah Ta’ala,
.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ 
.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)
.
Yang dimaksud dengan istiqamah di sini terdapat tiga pendapat di kalangan ahli tafsir: 
.
[1] Istiqamah di atas tauhid, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakr Ash Shidiq dan Mujahid, 
.
[2] Istiqamah dalam ketaatan dan menunaikan kewajiban Allah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Al Hasan dan Qotadah, 
.
[3] Istiqamah di atas ikhlas dan dalam beramal hingga maut menjemput, sebagaimana dikatakan oleh Abul ‘Aliyah dan As Sudi. Dan sebenarnya istiqamah bisa mencakup tiga tafsiran ini karena semuanya tidak saling bertentangan.
.
Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang istiqamah dan teguh di atas tauhid dan ketaatan, maka malaikat pun akan memberi kabar gembira padanya ketika maut menjemput “Janganlah takut dan janganlah bersedih”. 
.
.
keep istiqamah...
Pengertian Dzikir, Do'a, Wirid

Pengertian Dzikir, Do'a, Wirid

No Comments
Kata Dzikir berasal dari kata Dzakara yang artinya dari segi bahasa ialah :

“Memelihara dalam ingatan”.

Jadi, Dzakarallâha artinya : “(Ia) Memelihara ingatan untuk selalu mengingat Allâh dengan cara bertasbih dan mengagungkan-Nya”.
Sedangkan Dzakara Ismallâh artinya : “Menyebut nama Allâh”.

Imam Nawawi (rahimahullâh) mengatakan bahwa dzikir itu dapat dilakukan dengan hati atau dengan lisan. Akan tetapi lebih afdhal bila dilakukan dengan keduanya. Namun, bila ingin memilih diantara kedua hal itu, maka lebih afdhal bila dilakukan dengan hati. Di samping itu tidak layak bagi seseorang untuk meninggalkan dzikir dengan lisan dan hati hanya karena kuatir dituduh riya (pamer). Jadi, dzikir dengan hati dan lisan itu harus tetap dilakukan dengan niat semata-mata karena Allâh SWT.
(Al-Adzkar hal. 6)

Namun, Imam Nawawi juga menegaskan bahwa yang dimaksud dzikir di sini ialah hadirnya hati. Maka sudah sepantasnya bagi setiap orang yang melakukan dzikir untuk menyadari bahwa itulah tujuannya sehingga timbul keinginan untuk meraih hasilnya dengan mentadabbur ucapan-ucapan dzikirnya serta memikirkan makna-maknanya. Karena tadabbur atau tafakkur (merenung) dalam berdzikir merupakan keharusan sebagaimana ketika ia membaca Al-Qur-ân karena kedua-duanya memiliki maksud dan tujuan yang sama. (Al-Adzkar hal. 9)

Allâh SWT. telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdzikir kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Baqarah (2) : 152 :
“Maka berdzikirlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku”.

Zaid bin Aslam menceritakan bahwa Nabi Musa a.s. pernah bertanya kepada Allâh :“Wahai Rabb-ku, bagaimanakah cara aku bersyukur kepada-Mu?”. Maka Allâh SWT. menjawab :
“Berdzikirlah engkau senantiasa kepada-Ku dan jangan engkau lalai dari-Ku. Maka jika engkau berdzikir kepada-Ku berarti engkau telah bersyukur kepada-Ku. Dan jika engkau lalai dari-Ku berarti engkau telah kufur kepada-Ku”.

Anas bin Malik r.a. telah meriwayatkan bahwa Rasulûllâh saw. bersabda :
Allâh Yang Maha Mulia dan Maha Agung berfirman : “Wahai Ibnu Adam, apabila engkau berdzikir (mengingat dan menyebut) Aku di dalam diri-mu, maka Aku-pun akan mengingat-mu dalam diri-Ku. Dan jika engkau berdzikir (mengingat dan menyebut) Aku di tengah-tengah kelompok yang mulia, maka Aku-pun akan mengingat dan menyebut-mu di tengah-tengah para Malaikat yang mulia……”.
(Lihat Tafsir Ibnu Katsîr juz I hal. 197)

Arti lain dari kata Dzakara ialah : “Mengerti dan Memahami”. Jadi, bila dikatakan :
“(Ia) Mengerti dan memahami perkara itu”

Orang yang paham dan memiliki pengertian atau pengetahuan yang dalam disebut “Ahludz-Dzikri” sebagaimana disebut dalam Al-Qur-ân surah An-Nahl (16) : 43 :
“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu (Muhammad), kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan (Ahludz-Dzikri) jika kalian tidak mengetahui”.

Dan juga dalam surah Al-Anbiya (21) : 7 :
“Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah oleh-mu kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan (Ahludz-Dzikri) jika kalian tidak mengetahui”.

Jadi, arti Adz-Dzikr dalam konteks ini ialah “Pengetahuan” atau “Ilmu”. Itulah sebabnya Al-Qur-’ân disebut Adz-Dzikr karena ia mengandung ilmu pengetahuan yang sempurna yang mencakup kehidupan dunia dan akhirat sebagaimana disebut dalam surah Al-Hijr (15) : 9 :
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur-‘ân), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.
(Lihat Tafsir Ibnu Katsîr juz II hal. 547)

Berdasarkan ayat-ayat ini, Abu Ja’far Al-Baqir menegaskan bahwa umat Muhammad saw. adalah Ahlu-Dzikri, karena umat ini memiliki –sumber– pengetahuan yang paling lengkap dan sempurna dibanding umat-umat sebelumnya, yaitu : Al-Qur-’ânul-Karîm.
(Lihat Tafsir Ibnu Katsîr juz II hal. 570)

Do'a :
Menurut bahasa do'a berasal dari kata "da'a" artinya memanggil. Sedangkan menurut istilah syara' do'a berarti "Memohon sesuatu yang bermanfaat dan memohon terbebas atau tercegah dari sesuatu yang memudharatkan.1
Adapun lafadz do'a yang ada dalam al Qur'an bisa bermakna sebagai berikut:
1. Ibadah, seperti firman Allah: Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat demikian make, kamu termasuk orang-orang yang zhalim. (Yunus: 106).
2. Perkataan atau Keluhan. Seperti pada firman Allah: Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi. (al Anbiya: 15).
3. Panggilan atau seruan. Allah berfirman: Maka kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling ke belakang. (ar- Rum: 52)
4. Meminta pertolongan. Allah berfirman: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang at Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad) buatlah satu surat yang semisal at Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (al Baqarah: 23).
5. Permohonan. Seperti firman Allah: Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjagapenjaga jahannam: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari." (al Mukmin: 49).

Wirid :
Menurut istilah ahli tasawuf dan pengertian secara umum dalam disiplin ilmu Islam, wirid bermakna seperti ditulis Syeikh Muhammad al-Madini dalam artikelnya bertajuk al-Wird, “azkar makhsusah min al-quran wa sunnah Rasulillah wa min athar al-’ulama al-’amilin” atau zikir khusus daripada al-Quran, sunnah Rasulullah SAW dan amalan ulama muktabar. Zikir dibaca pada masa tertentu siang atau malam sehingga seolah-olah si pembaca wirid mengambil air apabila dia berasa haus.

Tafakur:
Tafakur biasanya merupakan kelanjutan dari Zikir atau Wirid. Tafakkur disebut juga dengan Zikir Qalby, artinya, bukan lagi anggota badan atau fisik serta logika yang aktif, melainkan jiwa atau kalbu.

Tafakur dan Tadzakur:

sepintas lalu sama tetapi kalangan ahli tasawuf membedakan antara keduanya. Tadzakkur lebih tinggi dari pada Tafakkur. Didalam Tafakkur sang hamba masih lebih aktif mencari channel dengan Tuhan dan Tuhan sendiri seolah pasif menunggu hambanya untuk mendekatkan dan menemukan diri-Nya.

Tafakkur masih ada ruang logika untuk mengontrol pola pendekatan dirinya dengan Allah SWT.

Tadzakkur:

betul-betul sang hamba pasif, penuh penyerahan diri kepada Allah SWT, tidak ada lagi logika yang aktif di dalamnya. Tafakkur seolah hamba yang pasif dan Allah SWT yang proaktif mendekati hamba-Nya. Mungkin pada diri orang yang sedang mengalami Tadzakkur diadreskan sebuah Hadis:

Barangsiapa yang mendekati-Ku sejengkal maka Aku akan mendekatinya sesiku, barangsiapa mendekati-Ku sesiku maka Aku akan mendekatinya sedepa. Barang siapa yang berusaha datang kepadaku dengan berjalan maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. Wallahua a'laam

Sumber :
http://wakpu.blogspot.co.id/2011/09/pengertian-dzikir-doa-dan-wirid-kata.html
http://asaarham.blogspot.co.id/2012/05/pengertian-dzikir-wirid-tafakur-tazakur.html
Mutiara Kalimat Hauqolah

Mutiara Kalimat Hauqolah

No Comments



APA ITU HAUQOLAH?
Hauqolah merupakan singkatan dari ungkapan la haula wa la quwwata illaa billahi. Dalam bahasa Arab, disingkatnya ungkapan atau beberapa kalimat menjadi satu suku kata disebut dengan an-Naht. Contoh lainnya seperti,bismillahirrohmanirrohim menjadibasmalahalhamdulillah menjadihamdalah, ‘Abduqois menjadi ‘Abqosi, dll.
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Ahli bahasa menyatakan bahwa ungkapan tersebut bisa disingkat menjadi hauqolah atau haulaqoh.” (Syarh an-Nawawi ‘ala Shohih Muslim, 17/27)
MAKNA HAUQOLAH
La haula wa la quwwata illa billahi artinya tiada daya dan upaya kecuali dengan bantuan dari Allah. Dalam menjelaskan ungkapan ini para ulama memiliki beberapa lafazh yang berbeda, namun kesemuanya memiliki kedekatan makna.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata ketika menjelaskan arti ungkapan tersebut: “Maksudnya ialah tiada daya bagi kita untuk mengamalkan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan tiada kekuatan bagi kita untuk meninggalkan maksiat melainkan dengan batuan-Nya pula.” (ad-Durr al-Mantsur, as-Suyuthi, 5/393)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwasnya ia menjelaskan: “Tiada daya dari maksiat Allah kecuali dengan penjagaan-Nya, dan tiada kekuatan untuk menaati-Nya kecuali dengan bantuan-Nya.” (Syarh an-Nawawi ‘ala Shohih Muslim, 17/26)
Demikian pula ada yang menyebutkan bahwa artinya adalah tiada daya untuk menolak kejahatan dan tiada kekuatan untuk mendapatkan kebaikan melainkan dari Allah azza wa jalla.
MUTIARA KEUTAMAAN HAUQOLAH
Telah datang keterangan dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan tentang keutamaan ungkapan tersebut. Berikut di antaranya:
1.      Dapat menghapuskan dosa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang di atas muka bumi ini yang berucap la ilaha illallahallahu akbarsubhanallahalhamdulillah, dan la haula wa la quwwata illah billlah melainkan dosa-dosanya akan diampuni meskipun melebihi banyaknya buih di lautan.” (Shohih al-Jami’, no. 5636)
2.      Termasuk al-baqiyatush sholihat.
Al-baqiyatush sholihat artinya amalan-amalan yang kekal lagi shalih. Tatkala ditanya tentang makna kata tersebut, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Yaitu ucapan la ilaha illallah, subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar, dan la haula wa la quwwata illa billah.”(al-Musnad, 1/71)
Jawaban seperti ini dinukil juga dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dan Sa’id bin al-Musayyibrahimahullah. (Tafsir ath-Thobari, 15/254-255)
3.      Salah satu harta simpanan di surga.
Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abdullah bin Qois -nama dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu-: “Hai Abdullah bin Qoisucapkanlah la haula wa la quwwata illa billah, sesungguhnya ia salah satu harta simpanan di surga.” (HR. Bukhari, no. 4205, 6384, dan Mulsim, no. 2704)
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa arti harta simpanan di surga ialah pahala yang ditabung untuk di surga, dan ia merupakan pahala yang begitu berharga. (Syarh an-Nawawi ‘ala Shohih Muslim, 17/26)
4.      Merupakan tanaman di surga.
Pada malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalani peristiwa isro` mi’roj, beliau melewati nabi Ibrohim ‘alaihissalam, ia berkata: “Wahai Muhammad, perintahkan umatmu untuk memperbanyak tanaman surga.”
Beliau bertanya: “Apa itu tanaman surga?.”
Ibrohim menjawab: “Yaitu ucapan la haula wa la quwwata illa billah.” (Shohih Ibn Hibban, no. 821)
5.      Termasuk salah satu pintu surga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Qois bin Sa’ad bin Ubadah: “Maukah aku tunjukan kepadamu salah satu pintu surga?.”
Aku menjawab: “Ya, tentu saja.”
Beliau bersabda: “Yakni ucapan la haula wa la quwwata illa billah.” (ash-Shohihah, 4/35-37)
6.      Merupakan ucapan orang yang berserah diri kepada Allah.
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa yang berkata bismillah sungguh ia telah mengingat Allah, siapa yang berkata alhamdulillah sungguh ia telah bersyukur kepada Allah, siapa yang berkata Allahuakbar maka ia telah mengagungkan Allah, siapa yang berkata La ilaha illaAllah maka ia telah mentauhidkan Allah, dan siapa yang berkata la haula wa laa quwwata illah billahmaka sungguh ia telah berserah diri sepenuhnya, dan kalimat itu akan menjadi harta simpanan baginya di surga.” (Fadhlu la haula wa laa quwwata illa billah, Ibnu Abdilhadi, hlm. 35)
KANDUNGAN MAKNA AKIDAH DI DALAM HAUQOLAH
Hauqolah merupakan kalimat yang sangat agung yang menunjukkan keikhlasan kepada Allah semata dalam memohon pertolongan dan bantuan. Dari sisi akidah kalimat ini mengandung makna yang begitu mendalam. Ringkasnya ada pada beberapa poin berikut:
1. Hauqolah merupakan kalimat yang dipergunakan untuk memohon pertolongan kepada Allah. Maka itu alangkah berhaknya orang yang mengucapkannya mendapatkan pertolongan dan bantuan dari Allahta’ala, serta taufiq dan inayah dari-Nya. Demikian pula, ia akan mendapatkan penjagaan dari Allahta’ala.
Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Kalimat la haula wa laa quwwata illa billah mewajibkan adanya pertolongan dari Allah.”(Majmu’ Fatawa, 13/321)
Oleh karenanya, disyariatkan bagi orang yang hendak keluar rumah untuk mengucapkan kalimat ini –yakni doa, ‘bismillahi tawakkaltu ‘alallahi la haula wa laa quwwata illa billah’- agar ia mendapatkan kecukupan, perlindungan, dan petunjuk serta setan akan lari menjauh darinya. (Hadits shohih riwayat Abu Dawud, no. 5095 & at-Tirmidzi, no. 3426)
Bahkan sebagian ulama salaf menjadikan kalimat ini sebagai pembuka buku-buku karyanya untuk memohon bantuan dan pertolongan dari Allah ta’ala seperti yang dilakukan ath-Thobari dalamMuqoddimah Shorih as-Sunnah, al-Harowi dalam al-Arba’in fi Dala`il at-Tauhid, dan ad-Daruquthni dalam bukunya ash-Shifat.
2. Kalimat ini mengandung pengakuan terhadap rububiyyah Allah azza wa jalla dan bahwasanya hanya Dia semata Maha menciptakan alam semesta, Maha mengatur semuanya, dan berbuat segala sesuatu dengan penuh hikmah di bawah kehendak-Nya. Tiada sesuatu yang terjadi dimuka bumi ini kecuali dengan izin-Nya.
Maka orang yang mengucapkannya berarti ia berikrar atas semua hal ini dan mengakui bahwa segala perkara ada di tangan-Nya. Tiada kuasa baginya atas sesuatu, tiada pula daya dan kekuatan kecuali atas izin dan taufiq dari Allah. Maka itu, hendaklah setiap manusia bersandar dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya.
3. Kalimat ini mencakup pengakuan akan nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala. Orang yang mengucapkannya pasti mengakui bahwa Robb yang dimaksudkan adalah tempat bersandar yang tidak membutuhkan siapapun juga. Sebaliknya seluruh makhluk sangat membutuhkan-Nya. Selain dirinya yang begitu lemah, tiada memiliki daya dan kekuatan untuk melakukan sesuatu kecuali dengan bantuan dari-Nya.
Demikian pula Dia tersifati dengan sifat-sifat kesempurnaan, keagungan dan kemuliaan. Sementara itu selain-Nya pasti memiliki banyak kekurangan dan tidak sempurna. Maka itu, Dzat yang tersifati dengan kesempurnaan seperti ini sangat berhak untuk ditujukan kepada-Nya semata permohonan bantuan dan pertolongan.
4. Kalimat ini mengandung keimanan kepada takdir Allah ta’ala. Sebab di dalamnya terkandung sikap pasrah dan berserah diri kepada Allah semata dan keyakinan bahwa segala urusan hanya terjadi dengan izin-Nya.
PEMAHAMAN SALAH SEPUTAR HAUQOLAH
 Ada beberapa pemahaman yang salah seputar kalimat hauqolah, baik dari segi lafazh maupun penggunaannya. Berikut di antaranya:
  1. Sebagian orang menjadikan kalimat ini sebagai kalimat istirja’i (ucapan inna lillahi wa inna ilaihi roji’un). Mereka mengucapkan hauqolah ketika musibah datang menimpa sebagai bentuk keluh kesah bukan untuk bersabar.
  2. Ahli bahasa menyebutkan bahwa di antara manusia ada yang mengucapkannya, ‘la haela wa laa quwwata illa billah.’ Yakni dengan lafazh haela. Ini jelas merupakan suatu kesalahan.
  3. Ada pula yang hanya mengucapkan ‘la haula’ saja dan tidak menyebutkannya dengan sempurna.
Syaikh al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang fenomena ini lalu beliau menjawab: “Sepertinya yang mereka inginkan adalah ucapan la haula wa laa quwwata illa billah, tapi salah dalam mengungkapkan. Adapun yang wajib adalah kembali kepada lafazh yang sebenarnya.”
Demikianlah ulasan ringkas seputar kalimat hauqolah. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.Wallahu ta’ala a’lam. Wa shollallahu wa sallam ‘ala Muhammad. [Diringkas dari sebuah buku karya Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhahullah yang berjudul al-Hauqolah terbitan Darul Fadhilah, Arab Saudi]
https://abumusa81.wordpress.com/2012/10/20/mutiara-kalimat-hauqalah/